Panduan Mahasiswa untuk Mengelola Stres
Salah satu dari sekian banyak tantangan yang dihadapi mahasiswa adalah stres.
Stres jangka pendek dapat membantu mahasiswa meningkatkan nilai, menyempurnakan esai, atau mencari peluang kerja yang diinginkan.
Sebaliknya, stres jangka panjang dapat memiliki konsekuensi negatif jika tidak ditangani dengan manajemen stres yang tepat.
Empat dari setiap lima mahasiswa mengalami stres secara teratur dan bahkan tanpa mengetahui manajemen stres.
Stres yang tidak dikelola dapat menyebabkan gejala fisik seperti kesulitan fokus, ketidaksabaran, kurang energi, perubahan nafsu makan, sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah, dan kesulitan tidur.
Selain itu, untuk konsekuensi negatif dari stres tanpa manajemen stres, semakin banyak mahasiswa yang melaporkan mengalaminya dalam jangka waktu yang lebih lama.
Meskipun tugas kuliah menyebabkan sebagian besar stres tersebut, elemen lain seperti teman, keluarga, dan pekerjaan juga dapat berkontribusi pada konsekuensi akademik dan emosional yang negatif.
Bagaimana Stres Mempengaruhi Mahasiswa?
Stres mengacu pada respons fisik terhadap emosi seseorang.
Stres dapat disebabkan oleh peristiwa yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan, seperti pernikahan yang akan segera terjadi atau kematian orang yang dicintai.
Ketika Anda mengalami perasaan stres, kelenjar adrenal melepaskan adrenalin, hormon yang terkait dengan reaksi melawan atau lari Anda, diikuti oleh kortisol.
Respons ini dapat menyelamatkan hidup Anda dalam situasi berisiko.
Sebaliknya, kortisol yang berlebihan dapat memiliki pengaruh jangka panjang yang merugikan pada laju metabolisme, pembentukan memori, serta pengelolaan gula darah.
Ada tiga jenis stres:
Stres Akut
Jenis stres yang paling sering terjadi, stres jenis ini disebabkan oleh tekanan sehari-hari seperti bangun terlambat, terburu-buru ke kelas, atau mendapatkan nilai buruk.
Namun, sebagian besar stres akut berlalu dengan cepat dan memiliki konsekuensi mental atau fisik yang lebih sedikit.
Stres Akut Episodik
Seperti namanya, stres akut episodik terjadi ketika seorang mahasiswa mengalami stres akut beberapa kali dalam jangka waktu yang lama.
Migrain atau sakit kepala tegang adalah gejala umum.
Stres Akut Kronis
Jenis stres ini terjadi ketika seseorang tidak mampu menghindari lingkungan yang terus-menerus penuh tekanan.
Misalnya, mahasiswa yang mengalami kesulitan intelektual dalam mata kuliah penting dapat mengalami stres akut yang terus-menerus, yang dapat mengakibatkan kurang tidur, penambahan berat badan, atau kecemasan.
Apa Saja Gejala Stres pada Mahasiswa?
Ketika manusia dihadapkan pada pemicu stres atau peristiwa yang menimbulkan stres, mereka menunjukkan berbagai respons emosional, fisik, perilaku, serta kognitif.
Akibatnya, dua anak mungkin bereaksi terhadap stres dengan cara yang sangat berbeda.
Berikut ini adalah beberapa cara stres dapat muncul pada manusia.
Gejala Fisik
Berkeringat, tekanan darah atau detak jantung meningkat, sesak napas, vertigo, sakit kepala, ketegangan otot, sakit perut, dan kelelahan.
Gejala Emosional
Marah, gelisah, dan perubahan suasana hati lainnya; peningkatan kecemasan; perasaan tidak berdaya; kesepian.
Gejala Perilaku
Penurunan nafsu makan (makan berlebihan), penyalahgunaan alkohol atau narkoba, penurunan hasrat seksual, pola tidur tidak teratur.
Gejala Kognitif
Kehilangan ingatan, kurang fokus, perspektif pesimistis, disosiasi (pemutusan hubungan dari ide, perasaan, atau identitas seseorang).
Apa Saja Sumber Stres Mahasiswa?
Mahasiswa bereaksi terhadap tekanan dengan berbagai cara, tetapi situasi tertentu hampir selalu tidak menyenangkan.
Tekanan finansial, tinggal bersama orang asing, rindu kampung halaman, beban kerja yang meningkat, tinggal serumah dengan teman sekamar, perselisihan keluarga, jadwal kerja, komitmen sosial, dan hubungan asmara adalah beberapa hambatan yang dihadapi mahasiswa.
Mahasiswa dapat mencari bantuan keuangan dari lembaga bantuan keuangan, tetapi mahasiswa dari luar negara bagian mungkin berisiko menjadi tunawisma dan kehilangan kemandirian.
Tinggal bersama orang asing dapat menimbulkan stres bagi mahasiswa, dan berbagi tempat tinggal dengan teman sekamar dapat menambah beban.
Tugas kuliah dan ujian, yang menyumbang sebagian besar nilai mahasiswa, juga dapat menambah stres.
Bagi mahasiswa, gejolak keluarga atau kehilangan orang terkasih di rumah dapat menyakitkan, terutama jika mereka tinggal jauh dari rumah dan tidak mampu mengambil cuti.
Jadwal kerja juga dapat menjadi sulit, dengan 4 dari 5 mahasiswa bekerja total 19 jam per minggu.
Berkenalan dengan orang baru dan pergi keluar setiap akhir pekan dapat memperburuk stres, terutama bagi mahasiswa tahun pertama.
Selain itu, mahasiswa mungkin meragukan identitas gender dan seksual mereka, yang dapat memengaruhi hubungan dan kencan.
Dapatkah Stres di Perguruan Tinggi Menyebabkan Masalah Kesehatan Lainnya?
Menurut penelitian, stres dapat berkontribusi pada pertumbuhan berbagai masalah kesehatan mental, termasuk kecemasan, depresi, dan penyalahgunaan narkoba.
Stres juga dapat menyebabkan masalah fisik seperti ketidaknyamanan yang terus-menerus.
Depresi adalah gangguan kesehatan mental multifaset yang dipengaruhi oleh variabel psikologis, biologis, dan lingkungan.
Karena peningkatan hormon stres, mahasiswa menjadi lebih rentan terhadap depresi.
Gejala depresi meliputi kecemasan, kesulitan tidur, penyalahgunaan zat, nyeri otot yang terus-menerus, serta nyeri leher kronis.
Mahasiswa sebaiknya berlatih meditasi dan yoga untuk meredakan ketegangan otot dan meningkatkan kesejahteraan umum agar dapat mengatasi stres.
7 Tips Manajemen Stres
Mengidentifikasi peristiwa yang dapat menimbulkan stres hanyalah setengah dari perjuangan bagi mahasiswa.
Untungnya, ada berbagai teknik yang dapat Anda gunakan untuk membantu mencegah stres, mengurangi jumlah stres yang Anda alami, dan meningkatkan kemampuan Anda untuk mengelola, dan akhirnya menghilangkan, stres.
1. Istirahat yang Cukup
Tidur yang cukup dan berkualitas memiliki sejumlah manfaat kesehatan, termasuk pengurangan stres dan peningkatan suasana hati.
Selain itu, anak-anak yang cukup tidur cenderung lebih jarang sakit, memiliki daya ingat yang lebih baik, sehingga menghasilkan pikiran yang lebih jernih.
2. Makan Sehat
Untuk menghindari gangguan pencernaan, berusahalah untuk mengonsumsi makanan bergizi daripada makan sambil jalan.
Anda juga dapat mencari makanan yang terbukti dapat mengurangi stres dan meningkatkan suasana hati Anda.
3. Berolahraga Secara Teratur
Olahraga teratur tidak hanya menjaga tubuh Anda tetap sehat, tetapi juga menghasilkan endorfin dan meningkatkan kemampuan kognitif Anda secara umum.
Olahraga bahkan dapat membantu Anda tertidur, mengurangi ketegangan.
Ingatlah bahwa olahraga tidak harus berat; Yoga, jalan-jalan singkat, dan peregangan dapat memberikan manfaat signifikan bagi kesehatan mental dan membantu mengurangi ketegangan.
4. Hindari Penggunaan Stimulan
Minum minuman energi dan kopi untuk menunjang sesi belajar larut malam pasti akan mengakibatkan kelelahan.
Stimulan ini meningkatkan kadar kortisol dalam tubuh, yang memperkuat dampak fisik stres.
5. Tetapkan Ekspektasi yang Realistis
Tetapkan tujuan yang wajar dan pilih rencana kelas yang memungkinkan waktu untuk belajar dan waktu luang untuk mengelola beban kerja.
Hindari stres dengan berkomunikasi dengan dosen untuk meminta perpanjangan waktu pengerjaan tugas.
6. Jangan Menunda-nunda
Menunda-nunda dapat menyebabkan stres serta ADHD, jadi manajemen waktu yang tepat dapat membantu Anda menghindari malam tanpa tidur dan kekhawatiran.
7. Identifikasi Cara Anda Meredakan Stres
Olahraga, pijat, waktu bersama keluarga, pernapasan perut dalam, teknik relaksasi, fokus pada frasa yang menenangkan, yoga, atau visualisasi semuanya dapat membantu meredakan stres.

Posting Komentar untuk "Panduan Mahasiswa untuk Mengelola Stres"