Masalah Ekonomi Umat Manusia dan Solusi Islami untuk Masalah Tersebut
Pentingnya masalah ekonomi bangsa dan negara di seluruh dunia semakin besar dari sebelumnya.
Fokus perhatian saat ini adalah munculnya lembaga-lembaga khusus dan buku-buku dengan jargon dan istilah yang muluk-muluk yang didedikasikan untuk Ekonomi sebagai disiplin ilmu, disertai dengan meningkatnya kompleksitas dalam proses produksi dan pasokan, serta akses terhadap fasilitas dasar kehidupan.
Anehnya, fenomena ini menjadi semakin rumit dan misterius, alih-alih terselesaikan atau lebih dipahami.
Namun demikian, jika dilihat dengan cara yang lebih sederhana dan alami, tanpa embel-embel teknis dan retorika akademis yang berlebihan, masalah ekonomi menjadi lebih mudah dipahami dan kita dapat menemukan manfaat dan kerugian dari berbagai langkah yang telah diambil untuk menyelesaikannya.
Masalah pendekatan parsial
Selain kebingungan yang disebabkan oleh terminologi dan jargon yang membingungkan, masalah ekonomi umat manusia menjadi lebih rumit karena telah dipisahkan dari inti masalah yang lebih besar yang dihadapi manusia sebagai makhluk moral, dan upaya telah dilakukan untuk menanganinya secara terisolasi sebagai pertanyaan independen. Pendekatan ini telah menyebabkan masalah ekonomi dipandang sebagai masalah utama dalam kehidupan.
Spesialisasi mungkin merupakan berkah, tetapi telah menyebabkan pengkotak-kotakan kehidupan dan ketidakmampuan untuk mengambil pendekatan holistik terhadap masalah yang dihadapi umat manusia.
Manusia saat ini telah direduksi menjadi mainan di tangan para ahli bermata satu dari berbagai ilmu pengetahuan, seni, dan kerajinan.
Semua ilmu pengetahuan mencakup berbagai aspek kehidupan.
Masing-masing memiliki tempat dan perannya sendiri dan merupakan bagian dari satu kesatuan yang sama.
Ekonomi mencakup bagian penting dari keberadaan sosialnya, tetapi ia bukan hanya hewan sosial yang hidupnya dapat dibatasi pada kebutuhan dasar akan makanan, pakaian, dan tempat tinggal.
Jelaslah, seseorang yang ingin memahami suatu masalah tidak boleh hanya berkonsentrasi pada area tersebut, atau melihat seluruh spektrum kehidupan dengan bias yang jelas terhadap masalah tertentu itu.
Seseorang harus melihat konteks yang lebih luas tanpa pandangan yang kabur.
Cara yang benar adalah dengan fokus pada seluruh spektrum secara komprehensif; memperhatikan setiap detail terkecil sambil menentukan bagian yang terpengaruh dan sifat sebenarnya dari penyakit tersebut.
Kesulitan saat ini dalam mencapai diagnosis dan pengobatan yang tepat untuk masalah ekonomi adalah akibat dari pendekatan parsial ini.
Masalah sebenarnya
Masalah ekonomi sebenarnya yang dihadapi umat manusia tidak lebih dari pertanyaan tentang bagaimana cara terbaik untuk memperoleh kebutuhan pokok hidup, sambil pada saat yang sama berupaya mempertahankan laju kemajuan sosial-ekonomi dan memastikan bahwa setiap anggota masyarakat memiliki kesempatan untuk memanfaatkan kualifikasi dan potensinya sebaik mungkin.
Jadi, tantangan ekonomi nyata yang dihadapi manusia adalah bagaimana menghilangkan ketidakadilan sosial dan tirani sambil mempertahankan laju kemajuan alami; bagaimana mewujudkan rancangan alam bahwa setiap makhluk harus mendapatkan apa yang dibutuhkannya untuk kelangsungan hidupnya; dan bagaimana menghilangkan hambatan yang menyebabkan energi dan potensi sebagian besar orang terbuang sia-sia.
Akar penyebab salah urus ekonomi
Faktor utama yang menyebabkan kemerosotan moral tersebut adalah kemerosotan moral orang-orang yang diberkahi dengan posisi ekonomi yang lebih baik menjadi sifat egois, serakah, pelit, dan tidak jujur.
Memperbesar diri dan kemewahan
Kaum kaya menolak untuk menerima hak-hak mereka yang dirampas haknya atas kekayaan nasional.
Sumber daya manusia yang seharusnya dapat digunakan untuk melayani peradaban dan budaya malah dimanfaatkan untuk memuaskan nafsu dan ego pribadi mereka.
Para pengikut setan ini tidak puas hanya dengan membiarkan sebagian besar masyarakat menderita secara moral, spiritual, dan fisik.
Mereka terlibat dalam kegiatan-kegiatan sia-sia, keji, dan berbahaya yang menyebabkan kehancuran umat manusia; sehingga juga menyalahgunakan modal materi.
Pemujaan modal
Sumber daya ekonomi yang melebihi kebutuhan seseorang dapat digunakan dengan salah satu dari dua cara berikut: Penggunaan pinjaman berbunga; Investasi dalam usaha komersial dan industri.
Kedua metode ini secara bersama-sama menyebabkan pembagian masyarakat menjadi dua kelas: (i) kelas kaya, yaitu sekelompok kecil orang yang memiliki hak istimewa, yang memiliki lebih dari yang mereka butuhkan dan menggunakan kekayaan mereka untuk menjadi lebih kaya lagi; dan (ii) sebagian besar masyarakat yang memiliki sedikit, hanya cukup untuk kebutuhan mereka atau mungkin tidak memiliki apa pun sama sekali.
Hal ini dapat menimbulkan konflik kelas dan konfrontasi dalam masyarakat.
Unsur persaingan antagonistik
Dengan munculnya persaingan yang tidak sehat, yang disebut persaingan antagonistik, jumlah orang yang "berkecukupan" dalam masyarakat terus berkurang sementara jumlah orang yang "tidak berkecukupan" bertambah.
Tren persaingan antagonistik ini kini melintasi batas-batas negara untuk mengglobalisasikan sistem ekonomi yang eksploitatif.
Kartel dan monopoli
Tren di atas telah melahirkan sekelompok kecil orang yang meliputi bankir, pialang, dan kepala kartel serta monopoli industri dan komersial.
Kelompok ini telah mendominasi sumber daya ekonomi dunia sedemikian rupa sehingga seluruh umat manusia saat ini tampak tak berdaya di hadapannya.
Resep komunisme
Komunisme menawarkan solusi unik.
Mereka mengusulkan untuk mentransfer alat produksi kekayaan dari kepemilikan pribadi ke kepemilikan publik dan juga untuk menyerahkan tanggung jawab distribusinya kepada masyarakat (dengan Partai Komunis sebagai satu-satunya perwakilannya).
Namun, hasil dari resep ini pasti akan sama mematikannya dengan apa yang ingin digantikannya.
Kapitalis super
Oleh karena itu, konsekuensi alami dari pemerintahan komunis adalah munculnya satu Kapitalis Super (yaitu Partai Komunis) dari puing-puing banyak kapitalis besar dan kecil di negara tersebut, dan bangkitnya seorang pemilik pabrik dan tuan tanah feodal yang sekaligus menjadi Tsar dan baron modal.
Sistem yang eksploitatif
Kekuasaan absolut seperti ini pasti akan merusak kekuasaannya sendiri secara absolut.
Bahkan jika kita berasumsi bahwa sekelompok elit penguasa tidak akan melampaui batas-batas tertentu dalam penggunaan kekuasaan absolut mereka, tidak ada jalan bagi pertumbuhan dan perkembangan kepribadian individu secara alami.
Pembantaian diri sendiri
Kelemahan sistem komunis akan jauh lebih besar daripada keuntungannya.
Sekelompok manusia tidak mungkin begitu berpengetahuan dan mahatahu sehingga mereka dapat menilai dengan benar kualitas intrinsik dan kemampuan bawaan jutaan sesama manusia dan kemudian merencanakan bagi masing-masing dari mereka jalur yang sempurna untuk pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Pengaturan yang kejam seperti ini akan menjadi pukulan telak bagi keberagaman peradaban manusia dan akan mengubah masyarakat menjadi monoton yang tak bernyawa; mengakhiri pertumbuhan alami peradaban dan pada akhirnya menyebabkan pembekuan potensi manusia dan degenerasi mental dan moral yang parah.
Oleh karena itu, komunisme tidak menawarkan solusi yang benar atau alami untuk masalah ekonomi manusia.
Solusi fasis
Fasisme dan sosialisme nasional juga mengklaim menawarkan solusi.
Secara praktis, konsekuensi dari pendekatan ini tampaknya tidak jauh berbeda dengan konsekuensi komunisme.
Solusi Islami
Sekarang, mari kita telaah solusi yang ditawarkan Islam untuk permasalahan ekonomi manusia.
Aturan dasar
Di antara aturan-aturan tersebut adalah mempertahankan prinsip-prinsip yang alami dan, jika terjadi penyimpangan, mengembalikan seseorang ke jalan yang alami.
Aturan kedua adalah memberikan penekanan yang kuat pada reformasi perilaku dan mentalitas untuk mengatasi akar permasalahan dalam jiwa manusia, alih-alih hanya puas dengan tindakan pencegahan eksternal berupa pengenalan beberapa aturan dan peraturan ke dalam tatanan sosial masyarakat.
Aturan dasar ketiga, yang dapat ditemukan di mana-mana dalam hukum Islam, adalah bahwa kekuasaan paksa negara dan kekuatan hukum hanya boleh digunakan jika dianggap perlu.
Menghasilkan uang
Mari kita lihat masalah mencari nafkah.
Islam mengakui hak seseorang untuk mencari nafkah di dunia ini, sesuai dengan bakat, kualifikasi, dan kemampuannya.
Namun, Islam tidak mengizinkan seseorang untuk menggunakan cara-cara anti-sosial atau korup untuk mencari nafkah.
Islam membedakan antara cara-cara mencari nafkah yang haram (terlarang) dan halal (diperbolehkan) dan menyatakan setiap cara anti-sosial sebagai haram.
Hak kepemilikan
Islam juga mengakui hak individu untuk memiliki apa pun yang diperolehnya melalui cara yang sah.
Namun, Islam tidak memberikan kebebasan penuh untuk menggunakannya sesuka hati, melainkan memberlakukan batasan-batasan tertentu.
Aturan untuk membelanjakan uang
Dalam Islam, membelanjakan penghasilan dengan cara yang dapat merusak moral atau merugikan masyarakat adalah haram.
Cara terbaik untuk menggunakan uang adalah dengan membelanjakannya secara wajar untuk kebutuhan yang halal, dan sisanya digunakan untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Menghilangkan tren kapitalis
Kelemahan manusia terhadap uang dan kemewahan tidak akan pernah bisa sepenuhnya diatasi hanya dengan khotbah atau ajaran moral abstrak.
Oleh karena itu, Islam memberlakukan pembatasan hukum terhadap penggunaan kekayaan yang ditabung setelah digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang halal.
Islam melarang transaksi berbasis bunga; akibatnya, mematahkan tulang punggung sistem kapitalis yang menindas.
Peredaran kekayaan dan jaminan sosial
Islam tidak menyetujui orang-orang yang menimbun kekayaan berlebih.
Dengan mewajibkan para pengikutnya untuk membelanjakan apa pun yang mereka peroleh untuk memenuhi kebutuhan mereka, berinvestasi dalam bisnis, atau meminjamkan kepada orang lain untuk membantu mereka memenuhi kebutuhan mereka, Islam menjaga modal tetap beredar.
Namun, jika seseorang berhasil menabung dan mengumpulkan surplus dari penghasilannya, maka dua setengah persen dari jumlah total tabungan wajib dipotong setiap tahun sebagai sedekah wajib atau Zakat yang akan digunakan sesuai dengan rencana kesejahteraan sosial yang telah dirancang dengan baik.
Dana yang dihasilkan akan disetorkan ke kas negara (Bayt al-Mal).
Dengan demikian, Bayt al-Mal akan menjadi sumber bantuan yang terjamin bagi semua orang yang membutuhkan dukungan.
Sistem Zakat dalam Islam sebenarnya merupakan lembaga asuransi sosial yang paling terkenal dalam masyarakat manusia hingga saat ini.
Ukuran lain adalah hukum warisan.
Islam tidak mengizinkan kekayaan untuk ditimbun.
Setelah pemilik meninggal, asetnya dibagi dan didistribusikan sesuai dengan bagian yang telah ditentukan.
Hal-hal yang perlu direnungkan
Bukankah ajaran Islam menghilangkan kelemahan kepemilikan pribadi yang muncul dalam masyarakat Muslim?
Lalu mengapa kita harus menggunakan model komunis, fasis, atau nasionalis-sosialis yang mengikuti cara-cara buatan dalam pengelolaan ekonomi, yang bukannya menghilangkan satu kesalahan justru menciptakan begitu banyak kesalahan lainnya?
Jika dilihat secara objektif dan diteliti secara tajam, dengan mengesampingkan bias, prasangka, dan pikiran sempit yang diwarisi dari masa lalu dan mengatasi kecenderungan untuk merasa gentar terhadap segala sesuatu yang baru karena dominasi sistem non-Islam di dunia, saya yakin bahwa setiap orang yang berpikiran jernih dan waras akan mengakui bahwa sistem ekonomi Islam adalah yang terbaik dan paling sesuai untuk menyelesaikan masalah ekonomi umat manusia.
Sistem ini terkait erat dengan sistem politik, peradilan, hukum, sipil, dan sosialnya yang didasarkan pada kode moral Islam.
Bahkan kode moral itu sendiri tidak mandiri, tetapi sepenuhnya bergantung pada iman kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat, kepada siapa setiap orang bertanggung jawab atas segala perbuatannya.

Posting Komentar untuk "Masalah Ekonomi Umat Manusia dan Solusi Islami untuk Masalah Tersebut"